Aku sekarat dicekik oleh rasa itu. Menjeritpun tak sanggup. Serasa dikubur oleh kenyataan. Berperang dalam keheningan. Aku sakit dan pulih sendiri. Terulang seperti jarum jam yang sedang memutari. Luka seolah menjadi awan hitam pada bulan juni. sering datang diiringi air mata yang membasahi rasanya asin namun tak asing. Tak ingin munafik, tapi andai saja diberi waktu untuk memiliki. eaaa hahah Amanda Milansari
Jeritan seorang anak perempuan yang tak mampu meredam suara gemuruh tuntutan, harapan, dan hinaan. Tak ada siapapun yang melihat hatinya yang remuk ditimpa beban. Ia menjerit meneriakkan harapan kepada Pemilik denyut nadinya. Kepalanya mendongak ke langit, tubuhnya basah akan air mata, uratnya yang membentang tampak jelas pada lehernya. Suaranya berat menggema "Oh Tuhaaan, dengan lantang ku katakan tak ada yang pantas merendahkanku selain Engkau, Oh Tuhaaanku setidaknya sebelum kau hapus aku dari kehidupan ini, biarkan aku tunjukkan perempuan seperti apa aku sebenarnya. Biar kutunjukkan pada kaum penyembah uang yang biadab bahwa aku seorang perempuan, mampu menundukkan dagu mereka yang selama ini mereka angkat, mampu membuat mereka takut untuk sekedar membuka mulut hina mereka". Jeritan seorang anak perempuan yang tak mampu meredam riuh suara hinaan. Suaranya tercekat namun tidak dengan suara hatinya, yang menembus langit tak terlenyapkan. Jeritan suara hati seorang anak per...
entah kemana kerindauan itu. entah hati yang mati rasa atau hanya ada hampa sungguh kosong sekali bahkan orang yang berhak akan kerinduan, tak dirindukan ada yang salah dengan hati pertanyaan "siapa yang mengisi hatimu?" tak mampu terjawab lidah jadi kaku, pikiran sibuk berputar, membentuk jawaban yang tak ada artinya. sebab jawaban sebenarnya adalah "tidak ada" Amanda Milansari