Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Jeritan Hati Seorang Anak Perempuan

 Jeritan seorang anak perempuan yang tak mampu meredam suara gemuruh tuntutan, harapan, dan hinaan. Tak ada siapapun yang melihat hatinya yang remuk ditimpa beban. Ia menjerit meneriakkan harapan kepada Pemilik denyut nadinya. Kepalanya mendongak ke langit, tubuhnya basah akan air mata, uratnya yang membentang tampak jelas pada lehernya. Suaranya berat menggema "Oh Tuhaaan, dengan lantang ku katakan tak ada yang pantas merendahkanku selain Engkau, Oh Tuhaaanku setidaknya sebelum kau hapus aku dari kehidupan ini, biarkan aku tunjukkan perempuan seperti apa aku sebenarnya. Biar kutunjukkan pada kaum penyembah uang yang biadab bahwa aku seorang perempuan, mampu menundukkan dagu mereka yang selama ini mereka angkat, mampu membuat mereka takut untuk sekedar membuka mulut hina mereka". Jeritan seorang anak perempuan yang tak mampu meredam riuh suara hinaan. Suaranya tercekat namun tidak dengan suara hatinya, yang menembus langit tak terlenyapkan. Jeritan suara hati seorang anak per...

Tolong, siapapun tolonggg

Aku sekarat dicekik oleh rasa itu. Menjeritpun tak sanggup. Serasa dikubur oleh kenyataan. Berperang dalam keheningan. Aku sakit dan pulih sendiri. Terulang seperti jarum jam yang sedang memutari. Luka seolah menjadi awan hitam pada bulan juni. sering datang diiringi air mata yang membasahi rasanya asin namun tak asing. Tak ingin munafik, tapi andai saja diberi waktu untuk memiliki. eaaa hahah                                                                                                                                       Amanda Milansari
Pikiran yang tak lagi utuh sekuat tenaga raganya berjuang tuk sembuh namun tak henti berusaha dibunuh dihabisi oleh logika yang juga rapuh dan matanya menyiratkan kematian tersungkur berulang kali hingga kumuh tak terbasuh  bekas jahitan yang belum mengering pada tubuh merangkak, kaki yang parahpun luluh  ia melihat gelap, sebab saraf matanya telah lumpuh                                                                           @Tuang.Segelas

Terkubur

 Dengan segala keterbatasan, kau kan ku relakan. Dengan segala perdebatan batin, aku memilih tetap bungkam. Hati berontak, namun menurut dengan terpaksa. Dengan segenap ketidakberdayaanku untuk sekedar mengungkapkan, perasaan ini akan ku kubur. Namun biarlah sajak kata ini menjadi batu nisan sebagai penanda bahwa aku rela mati demi menjaga keindahanmu. Bahwa perasaanku rela terkubur hidup-hidup, demi membiarkanmu tetap bermekaran indah tak tersentuh oleh perasaan hina ini. Tapi aku bersumpah akan terus memandang sinar senyummu, melihatmu berbunga dikelilingi kupu-kupu. Dari liang lahat ini aku tersenyum.                                                                                                ...