Eurika Rembulan
“Jangan bohong. Jangan berakting lagi. Kamu pintar, aku lebih pintar. Aku jenius dan kamu tidak. Aku terombang-ambing seperti kapal karam. Kamu tahu susahnya menjadi tidak cinta?.
Kamu semakin dekat, aku semakin gila.
Kamu semakin nyata, kamu terlihat sangat nyata.
Kamu adalah depresi termanis yang sepatutnya ada dalam otakku.
Kamu adalah alasan mengapa sebutir obat ini terasa begitu nikmat untuk ku teguk”.
Menikmati kamu dalam kehadiran imaji. Kamu tetaplah hati yang digilai ruang hampaku. Padahal kamu bukan milikku. Lantas, begitu gilakah sang ruang sampai kamupun didamba?